Jumat, 07 Oktober 2011

WEAVING

Definisi Pertenunan
1. Harus ada benang lusi dan benang pakan
2. Ada silangan dari benang lusi dan pakan yang berarti ada terjadi anyaman
3. Lusi tegak lurus dengan benang pakan di peralatan mesin tenun
4. Membentuk anyaman tertentu
Klasifikasi Mesin Tenun
Klasifikasi berdasarkan cara pelemparan atau penyisikan benang pakan ke dalam mulut lusi mesin tenun :
1. Mesin Tenun Teropong (Shuttle Loom)
    A. Mesin Tenun Teropong Dengan Mesin Motor
    B. Mesin Tenun Teropong Tanpa Mesin ( ATBM )
2. Mesin Tenun Tanpa Teropong ( Shuttleless Loom)
    A. Projectile Loom (Peluru)
    B. Air Jet Loom
    C. Water Jet Loom
    D. Rapier Loom : Sistem tongkat,Sistem sabuk,Sistem rantai
Nama mesin tenun berdasarkan cara pembentukan pembukaan mulut lusi mesin tenun / Alat Pembentuk Mulut Lusi (APML) :
1. Mesin Tenun Dobby
2. Mesin Tenun Jacquard
3. Mesin Tenun Tappet
4. Mesin Tenun Crank, dan lain-lain

Shuttle Loom saat ini sudah semakin banyak ditinggalkan, meskipun masih ada yang memakainya dengan berbagai alasan seperti mahalnya mesin shuttleless loom dan corak kain yang dibuat masih cocok memakai sistem shuttle. Mesin ini biasanya masih jalan untuk industri tekstil skala kecil.
Sebelum suatu perusahaan merencanakan membeli beberapa mesin tenun, pasti harus memperhatikan apakah sesuai dengan produk kain yang akan dihasilkan, variasi produksi dari mesin yang bersangkutan, harga mesin tenun, kualitas mesin tenun, ketersediaan spare part dan lain-lain

Kelebihan dan Kekurangan Shutleless Loom

Air jet Angin: Kecepatan tinggi, gampang, lebih variatif untuk benang yang dibawa. Membutuhkan kompresor, kurang stabil untuk high twist dan benang besar
Water Jet Air: Kecepatan tinggi, sederhana, mudah pengoperasiannya Hanya cocok untuk benang filamen, membutuhan sumber air besar
Projectile Peluru:Biasanya double beam, kuat untuk membawa benang besar, tidak butuh alat tambahan Kecepatan rendah, tidak cocok untuk benang-benang kecil, harga mesin mahal
Rapier tongkat:kuat untuk membawa benang besar, tidak butuh alat tambahan Kecepatan rendah, dan susah pengoperasiannya




PRINSIP KERJA MESIN TENUN

I. Gerakan Pokok Mesin Tenun
Gerakan pokok semua mesin tenun adalah sama yaitu gerakan proses penganyaman benang pakan (weft) dengan benang lusi (warp) secara tegak lurus. Gerakan pokok tersebut adalah :

A. Gerakan pembukaan mulut lusi (shedding motion)
Gerakan membagi benang benang lusi ditarik sebagian keatas dan sebagian kebawah oleh gerakan kamran naik turun, sehingga terjadi pembukaan mulut lusi untuk memberi ruang ketika terjadi peluncuran benang pakan.
Mulut Lusi : adalah ruangan yang terbentuk karena adanya benang lusi naik/turun/diam pada tempatnya terhadap ujung kain.

Jenis-jenis mulut lusi : Kamran/heald frame
     a. Mulut lusi naik-turun
     b. Mulut lusi naik lusi
     c. Mulut lusi turun lusi
Alat Pembentuk Mulut Lusi ( APML ) :
   A. Cam, engkol, Crank : posisi mulut lusi naik-turun             B. Dobby : posisi mulut lusi naik
   C. Jacquard : posisi mulut lusi naik / mulut lusi naik-turun   D. Rol kerek dengan essentric: posisi mulut                                    
                                                                                                         lusi naik / posisi mulut lusi turun
Syarat mulut lusi yang baik :
a. Mudah dilalui oleh media peluncur pakan
b. Tidak menimbulkan putus benang lusi
c. Tegangan benang lusi sama atau hak mulut lusi harus bersih (sudut mulut lusi adalah tetap )

Gambar Gerakan Buka Mulut Lusi
Alat pembuat Mulut Lusi sistem cam, heald frame naik-turun berdasarkan bentuk dari cam yang dihungkan dalam setiap heald frame. Bentuk cam dapat mengakibatkan berapa lama heald frame di posisi atas atau bawah. Sehingga akan dapat mengatur jenis anyaman yang akan kita buat.

Sistem cam terdapat 2 jenis sistem, yaitu :
a. Positif cam : Heald frame secara langsung bergerak berdasarkan tekanan dari cam, sistem ini lebih sederhana dalam perawatan, tetapi sangat berat membebani motor utama. Untuk itu diperlukan motor utama yang lebih besar daya listriknya agar mampu menaik turunkan heald frame dengan baik.

Gambar sistem positif cam
b. Negatif cam : disini heald frame dibantu oleh per penarik (top lever spring), sehingga cam tidak terlalu berat bebannya. Motor hanya bertugas menurunkan heald frame saja sehingga memerlukan daya listrik lebih kecil. Sistem ini memang lebih rumit dari positf cam, karena menggunakan wire rope (tali) yang ada umur pakainya.

·         Efek lusi adalah benang lusi pada posisi diatas, jadi yang tampak kelihatan dari atas adalah benang lusinya.
·         Efek pakan adalah benang pakan pada posisi diatas, jadi yang tampak kelihatan dari atas adalah benang pakannya.

B. Gerakan peluncuran benang Pakan (weft insertion)
Adalah gerakan peluncuran benang pakan menyisip ke dalam mulut lusi dari satu sisi ke ujung sisi yang lainnya. Disini ukuran mulut lusi harus benar-benar memudahkan penyisipan pakan, tetapi tidak terlalu lebar sehingga terlalu menarik benang lusi yang ada dan memutuskannya. Media peluncuran benang pakannya juga bermacam-macam, tetapi prinsipnya sama, yaitu membawa benang pakan menyisip melebar kearah lebar kain.

C. Gerakan pengetekan benang pakan (beating motion)
Gerakan pengetekan adalah merapatkan benang pakan yang sudah disisipkan di mulut lusi oleh media peluncur. Pengetekan dilakukan oleh sisir atau reed mesin tenun.
a. Pengetekan mulut lusi terbuka, yaitu pengetekan terjadi saat benang pakan diluncurkan dan mulut lusi masih dalam keadaan terbuka.
                              Gambar pengetekan mulut lusi terbuka
Keterangan gambar : 1. Kain. 2. Ujung kain 3. Benang lusi 4. Sisir 5. Benang pakan
b. Pengetekan mulut lusi tertutup, yaitu pengetekan dilakukan setelah benang pakan di dalam mulut lusi dalam keadaan tertutup. Biasanya untuk benang filament.


Gambar pengetekan mulut lusi tertutup
c. Pengetekan mulut lusi bersilang yaitu pengetekan dilakukan setelah benang pakan diluncurkan dalam mulut lusi setelah berganti dengan mulut lusi yang baru. Biasanya untuk benang-benang spun.
Gambar pengetekan lusi silang

II. Gerakan Sekunder Mesin Tenun
Gerakan sekunder adalah gerakan yang membantu gerakan primer agar proses pertenunan menjadi sempurna. Gerakan-gerakan tersebut adalah:
A. Gerakan penguluran benang lusi (let-off motion)
Gerakan penguluran benang lusi sesuai kebutuhan proses penganyaman kain sewaktu ditenun. Selain itu pula untuk mesin modern ditambahkan gerakan-gerakan tambahan (easing motion) untuk menjaga kerataan benang sebelum dianyam atau di tenun, mengurangi hentakan dari kamran ketika bergerak pada benang lusi sehingga tidak mudah putus dan gerakan ini juga membuang kotoran-kotoran yang menempel pada benang lusi.
Secara garis besar sistem penguluran lusi di mesin tenun dibagi :
a. Sistem pengereman
Peralatan bekerja hanya menahan beam lusi saja, supaya tegangan lusi selama pertenunan berlangsung baik. Sistem bekerja pasif saja. Sistem ini ada pada mesin jaman dulu.
Gambar sistem pengereman dengan pemberat
b. Sistem Regulator
i. Regulator positif : Peralatan bekerja aktif, mengulur lusi dengan panjang tetap. Peralatan ini menggunakan sistem pengaturan kecepatan input dan output dari roda gigi dan vanbelt atau rantai dengan penyetelan awal berdasarkan diameter benang lusi di beam tenun. Sistem ini juga mulai sudah ditinggalkan. Tidak praktis, akurasi kurang, dan penanganannya susah.

ii. Sistem elektronik dan tekanan angin: Mesin tenun air jet loom merek Tsudakoma tahun 1980-1990an.
Gambar sistem elektronik dan tekanan angin


A.Cylinder. B.Beam. C.Yarn. D.Loadcell. E.Guide roll. F.Compressor. G.CPU/Komputer. H.Electric pneumatic valve. I.Beam stand. J.Proximity Switch.

Keterangan
Load cell : Sensor beban, tugasnya memberi data tentang
beban / tension benang.
Proximity switch : Memberi data kecepatan putaran beam, sehingga
dapat diketahui sisa diameter benang yang masih
ada di beam.
Cylinder : Penarik bandbrake bila di isi pressure angin akan
menarik beam untuk mengerem.
Electric pneumatic valve : Valve yang dapat mengatur berapa
banyak angin yang dibutuhkan sesuai
tegangan yang diberikan.



Cara Kerjanya :
Loadcell memberikan data tension benang yang ada, dan proximity switch memberi data sisa diameter beam benang, kemudian diolah CPU, diperbandingkan dengan kebutuhan tension yang telah kita setting di CPU. Kemudian memberikan signal tegangan ke electric pneumatic valve. Buka tutupnya valve ( pressure angin masuk ) sesuai signal tegangan yang ada. Pressure angin akan menggerakkan cylinder guna menarik bandbrake.
Bila tension melebihi yang disetting di CPU, maka beam akan mengalami penguluran karena bandbrake mengendor, sebab pneumatic valve menutup pressure angin yang ke cylinder. Begitu juga sebaliknya bila tension nyata dibawah yang kita inginkan, maka bandbrake akan lebih banyak mengerem karena valve membuka angin ke cylinder.

iii. Sistem Digital Dengan AC Servo Motor mesin tenun modern : toyoda, tsudakoma, picanol dll.
Gambar Sistem Penguluran AC Servo Motor
A. Loom beam. B. Load cell. C. AC Servo motor. D. Guide roll. E. CPU. F. roda gigi beam. G. Roda gigi AC Servo motor.
Gambar sensor untuk sistem penguluran mesin tenun
Cara kerja :
Loadcell akan memberi data tension benang yang ditarik take-up ke CPU, dan CPU memberikan signal tegangan ke AC Servo Motor, kapan dia maju atau mundur memgerakkan beam tenun. Data CPU dapat kita isi sesuai keinginan kita, tergantung jenis benang, total end, atau masalah lain. Kelebihannya adalah lebih akurat tegangan yang diberikan, menghilangkan stopmark yang menyebabkan cacat kain tebal/tipis, dan mudah mengoperasikannya.


Rumus yang diberikan untuk di masukan komputer (CPU) sebagai tegangan untuk jajaran benang lusi adalah :
Tension Lusi = Kg

Gambar Sistem Digital Dengan AC Servo Motor mesin tenun
B. Gerakan penarikan dan penggulungan kain (take-up motion)
Gerakan penarikan hasil tenun dan mengulung kain yang sudah jadi kedalam rol kain. Gerakan penarikan dan penggulungan kain di rol walau satu sistem tapi dipisahkan oleh roda roda gigi. Kecepatan penarikan kain berjalan kontan atau tetap, kecepatan pengulungan kain di rol berdasarkan besar diameter kain yang sudah tergulung di rol kain. Sistem penarikan kain ada 2 macam, yaitu :
a. Positif : bekerja terus menerus walaupun tanpa pakan. Ini adalah sistem roda gigi, di sini poros utama mesin tenun member tenaga ke roll penarik kain melalui variasi roda gigi-roda gigi sehingga mengalami perlambatan kecepatan. Di variasi roda gigi tersebut juga di atur kerapatan kain per inchi ( Weft Dentsity ). Ada 2 roda gigi yang bisa diganti-ganti jumlah gigi sesuai kebutuhan konstruksi kain yang akan diproduksi.

Electronic Take Up ( ETU ) :
Sistem Digital Dengan AC Servo Motor seperti pada sistem penguluran, disini lebih mudah pengoperasikannya. Pengaturan kerapatan kain per inchi ( Weft Dentsity ) dapat langsung melalui input ke komputer, jadi lebih mudah apabila ada pergantian kontruksi kain di mesin tenun, otomatis kecepatan penarikan kain akan berubah sesuai yang diinginkan.
b. Negatif : bekerja kalau ada pakan :
Disini sistemnya bekerja diatur untuk menggerakkan penarikan kain sebanyak 1 Pick ( satu density pakan). Sistem ini dipakai dulu bekerja bersama dengan sistem penguluran dengan roda gigi regulator positif dan sudah tidak terpakai karena sistem mekanik yang kurang efektif.
Gambar gabungan sistem Penguluran dan Penarikan secara elektronik pada mesin tenun




III. Gerakan Tambahan Mesin Tenun (Auxiliary motion)
Gerakan Tambahan adalah gerakan pelengkap sesuai kebutuhan mesin tenun untuk tujuan tertentu, misalnya :
A. Gerakan putaran benang leno (leno motion)
Bertujuan untuk menjepit anyaman pinggiran kain agar kuat. Gerakan dari bagian ini membentuk anyaman polos atau 1/1 dengan menggunakan benang filament yang lentur dan kuat. Walaupun model dan cara kerjanya berbeda-beda setiap merek mesin tenun, namun prinsip dan hasilnya sama. Gerakan yang sama fungsinya adalah system Klocker, namun sudah banyak di tingggalkan karena banyak kelemahan untuk mesin tenun berkecepatan tinggi.
Gambar Leno mesin tenun Tsudakoma dan leno mesin tenun Dornier
B. Otomatis berhenti pakan putus (weft stop motion)
Gerakan menghentikan mesin ketika terjadi benang pakan putus. Dimesin tenun model lama otomatis stop menggunakan system mekanik semua. Mesin tenun modern menggunakan system elektronik, selain sangat sensitif, gampang perawatan dan mudah mengoperasikannya, namun mahal harga suku cadangnya. Sistem yang ada kadang berbeda, tergantung dari model media peluncuran benang pakan dan merek mesin tenunnya.
Sebagai contoh untuk mesin Air Jet Loom, otomatis pakan putus menggunakan 2 sensor photocell yang mampu mendeteksi benang pakan yang lewat. Sensor 1 memastikan benang sampai dipinggir dan sensor satunya memastikan panjang benang pakan yang menyisip tidak terlalu panjang dan memastikan benang tidak putus di tengah penyisipan.
Apabila pakan tidak sampai kepinggir dengan sempurna dalam satu langkah penyisipan pakan, sensor tidak membaca benang lewat, sehingga member input ke komputer untuk mematikan mesin tenun.
b. Memastikan panjang benang pakan tidak terlalu panjang dan memastikan benang tidak putus ditengah penyisipan.
Otomatis berhenti pakan putus di mesin menggunakan sensor cahaya, apabila ada benang pakan lewat didepannya, maka akan memberi masukan ke komputer. Komputer akan memproses apakah mesin berhenti atau tetap jalan. Sensor yang dipasang ada 2 (dua) buah, yaitu :
A. Sensor 1
Sensor ini diatur bekerja pada sudut interval 200°-290° dalam (1) satu gerakan pokok. Di sudut itu benang pakan akan sampai diujung kain paling jauh. Sensor akan memastikan benang pakan selalu mencapai ujung kain dan menghentikan mesin apabila tidak sampai.
B. Sensor 2
Sensor ini di diatur bekerja pada sudut interval 200°-300° dalam 1 (satu) gerakan pokok. Sensor akan memastikan benang pakan tidak melewati batas yang diinginkan dan menghentikan mesin apabila ada yang melewati sensor.
Dengan sensor cahaya ini sangat diperlukan kebersihan lensa sensor dari debu, kapas atau kotoran yang menempel. Kotoran akan member signal seolah-olah ada benang yang lewat didepan sensor.
C. Otomatis berhenti lusi putus (warp stop motion)
Gerakan menghentikan mesin ketika terjadi benang lusi putus.
a. Mekanik, sistem ini sudah tidak ada lagi untuk mesin tenun modern, selain kurang akurat juga tidak praktis.
Terdiri dari 2 buah bar bergerigi, yang satu posisi tetap, yang satu bergerak seirama dengan mesin tenun jalan, ketika benang lusi putus, dropper akan jatuh dan mengunci kedua bar, sehingga bar yang bergerak akan tertahan dan diam, karena diam maka akan menggerakkan lever dan finger akan memutuskan switch untuk mematikan mesin tenun.
b. Elektrik : Dalam satu bar terdapat 2 electroda, ketika benang lusi putus, dropper turun , kedua elektroda akan terjadi kontak listrik engan perantara dropper, yang kemudian akan mengerakkan solenoid atau relay untuk mematikan motor listrik mesin tenun.
Gambar bar dengan 2 elektroda



PENGATURAN SETIAP GERAKAN PADA MESIN TENUN

Untuk pemudahkan penyetelan mesin, semua gerakan pada mesin tenun ketika mulai pembukaan mulut lusi, penyisipan pakan dan pengetekan dianggap 1(satu) putaran (360º). Gerakan-gerakan yang lain mengikuti timing di dalam 360º tersebut. Pembukaan mulut lusi, penyisipan pakan dan pengetekan disebut Satu Gerakan Pokok mesin tenun atau Satu Gerakan Poros Utama.
Semua gerakan di mesin tenun modern diatur dan dikontrol secara elektronik oleh encoder. Encoder akan menerjemahkan 1 (satu) gerakan pokok mesin tenun (pick) dalam 360° atau 1 (satu) lingkaran. Posisi 0° adalah ketika sisir (reed) menempel diujung kain, 180° ketika buka mulut lusi maksimal membuka, dan 360° ketika akhir pengetekan dimana sisir kembali sampai menempel ujung kain. Di dalam langkah 360° tersebut, terjadi beberapa gerakan yang harus dikerjaan oleh masing-masing bagian mesin secara sinergi. Di gambar bawah, 85° - 220° adalah waktu (timing) penyisipan benang dalam 1 (satu) gerakan pokok mesin tenun.
Gambar Waktu Penyisipan atau Sudut Interval Pakan 85º-220º

PENGGERAK UTAMA

Pengerak utama mesin tenun adalah motor listrik 3 phase 380V, yang kemudian lewat pulley dan belt menggerakkan Poros Utama (PU). Dalam gerakan 1 kali putar poros utama = 1 kali gerakan pokok mesin tenun. Seperti di ingat 1 kali gerakan pokok adalah gerakan dari pembukaan mulut lusi, penyisipan pakan sampai dengan pengetekan akhir (360º).
Dari 1 kali gerakan poros utama akan menggerakkan poros lain, seperti poros tambahan untuk penggerak cam atau dobby atau yang lainnya tergantung masing-masing jenis mesin tenun.
Gambar motor mengerakkan poros utama untuk beating motion dan poros cam

Poros tambahan untuk putaran poros cam pembentuk mulut lusi dapat diatur kecepatannya dengan pemakaina roda gigi untuk merubah perbandingan kecepatan yang dihasilkan.
·         RPM Poros Utama 600rpm akan digunakan untuk anyaman polos 1/1 maka kebutuhan rpm yang terjadi adalah : Poros utama roda gigi 36T dan diteruskan dengan roda gigi 48 T, maka rpm yang dihasilkan untuk poros cam adalah : 600rpm x = 417rpm
·         RPM Poros Utama 600rpm akan digunakan untuk anyaman keper 2/1 maka kebutuhan rpm yang terjadi adalah : Poros utama roda gigi 28T dan diteruskan dengan roda gigi 56 T, maka rpm yang dihasilkan untuk poros cam adalah : 600rpm x = 325rpm.
Selain menggerakkan engkol untuk gerakan pengetekan, poros cam untuk pembuat mulut lusi, juga menggerakkan bagian lain seperti take-up, cutter penggunting pakan, leno, easing, menggerakkan pemukul pada mesin tenun shuttle dan lain-lain. Kecepatan yang diperlukan masing-masing bagian dikurangi perbandingannya tetap melalui jumlah gigi antar roda gigi.
Rpm yang dihasilkan tiap mesin tenun walaupun merek dan tipenya sama tidak akan sama output rpm yang dihasilkan. Faktor lilitan motor listrik dan daya slip di pulley sering berbeda-beda. Maka untuk mesin tenun modern hasil rpm tiap mesin tenun berbeda-beda dapat di lihat langsung di Monitor mesin.
Hasil produksi yang dihasil mesin tenun tergantung dari rpm mesin dan Density Pakan ( DP ) kain yang dihasilkan.

Rumus Produksi mesin per jam : Meter/jam
Keterangan :
Rpm : rpm dari poros utama
Eff : efisiensi nyata mesin jalan
39 : Angka ketetapan untuk menghasilkan produksi dalam meter, untuk satuan yard
memakai 36.
DP : Density pakan ( jumlah benang pakan per inch) kain yang dihasilkan.






YARN FEEDER ( ACCUMULATOR )

Alat digunakan pada semua mesin tenun modern, fungsi dari yarn feeder (accumulator) ini adalah :
1. Menjaga tegangan benang pakan agar rata ketika penyisipan ke mulut lusi, dengan tegangan yang ada benang dapat digunting untuk penyipan benang selanjutnya.
2. Mengatur panjang benang yang dibutuhkan dalam selebar kain.
3. Mengatur variasi tembakan benang warna.
Gambar yarn feeder

Pengaturan kecepatan, variasi warna dilakukan dengan cara member input ke komputer, kemudian komputer akan memberi perintah ke yarn feeder sesuai dengan yang kita inginkan. Meskipun setiap mesin tenun mempunyai yarn feeder berbeda-beda bentuk, tetapi fungsi dan kegunaannya sama saja.

MESIN TENUN TEROPONG ( SHUTTLE )

Walapun sudah banyak ditinggalkan, mesin tenun teropong masih ada yang memakainya dan kita harus juga mengetahui system kerja dari mesin tersebut. Benang pakan menyisip kedalam mulut lusi dengan cara memukul shuttle (teropong) yang dipukul ke kanan dan ke kiri bergantian sehingga membentuk anyaman atau tenunan. Sistem kerja masih sangat sederhana, kecepatan rendah, bising, dan umur pakai spare part pendek. Kelebihannya, kuat membawa benang pakan, variasi tenunan banyak dan gampang penyediaan spare partnya.

Driving
Pengerak utama adalah motor listrik 3 phase 380 V dengan rpm mesin utama maksimal 150 rpm dan penyetopan mesin menggunakan sistem spul magnet (magnet breaker). Tenaga poros utama menggerakkan pengetekan, pemukul shuttle dikanan dan kiri, memutar cam dobby sebagai pembuat mulut lusi bila pakai dobby atau pembuat mulut lusi yang lain tergantung jenis mesinnya.

Beating
Menggunakan sisir bentuk flat, gerakan pengetekan dilakukan selalu dalam posisi teropong dipinggir.

Let off
Menggunakan sistem variable speed yang diatur di awal berdasarkan diameter beam lusi yang akan jalan.

Take Up
Gerakan penarikan kain didapat dari putaran poros utama yang melewati beberapa roda gigi yang juga untuk mendapatkan density pakan yang diinginkan.

Sensor di mesin tenun teropong
1. Fast reed warp protector
Digunakan untuk memastikan bahwa shuttle berada berapa pada tempatnya, apabila shuttle tidak berada dalam jalannya, mesin otomatis akan berhenti, karena bila tidak akan merusak jajaran benang lusi yang ada. Ketika shuttle tidak berada ditempat, maka swell akan terdorong maju karena shuttle kosong. Swell maju otomatis finger maju dan menghadapkan dagger untuk menekan frog untuk mematikan mesin.


2. Loose-reed WarpProtector
Sensor ini digunakan untuk melindungi reed/sisir berbenturan dengan shuttle apabila shuttle masih berada ditengah ketika terjadi gerakan pengetekan. Disini ketika hal tersebut terjadi, finger akan menekan dagger untuk melepaskan sisir dengan membuka baulk support dan juga menekan heater untuk menghentikan mesin tenun.
3. Electromagnetic warp protector.
Memastikan shuttle pada posisi sudut penyisipan benang pakan dalam 1 kali gerakan pokok petenunan. Untuk memastikan hal tersebut di shuttle dipasang magnet yang dihubung dengan magnet yang ada diporos utama. Setiap posisi shuttle magnet bertemu dengan coil, harus dengan magnet dan coil di poros utama. Apabila tidak sama, maka mesin akan berhenti.
4. Side weft-fork motion
Memastikan bahwa benang tidak putus dipinggir kain dan mesin jalan terus, apabila tidak sempurna, yaitu benang tidak menekan weft-fork maka akan mematikan mesin melalui weft fork support. Weft-fork dibantu cam untuk tetap naik ketika benang posisi ditengah.
5. Centre weft-fork Motion
Alat ini cara kerja seperti side weft-fork motion, tetapi posisinya ditengah. Digunakan untuk memastikan benang pakan tidak putus ditengah.
6. Mechanical Weft Feeler:
Digunakan untuk mengetahui sisa benang pakan di bunch dalam teropong. Apabila benang pakan di bunch habis feeler blade akan semakin menekan mendekati trip lever untuk mengganti bunch baru berisi benang penuh.
7. Electrical Two Pronged Feeler:
Digunakan untuk mengetahui sisa benang pakan di bunch dalam teropong sistem elektrik. Apabila benang pakan di bunch habis feeler prongs akan bersinggungan, sehingga ada kontak listrik menggerakkan solenoid untuk mengganti bunch baru.
8. Electrical photocell feeler
Di bunch kosong dilapisi kertas bercahaya, ketika benang pakan dibunch mualai habis, cahaya dari kertas akan terdeteksi oleh photocell, dan photocell akan menggerakkan penggantian bunch.

AIR JET LOOM

Mesin tenun ini terus dikembangkan karena mempunyai kecepatan tinggi, mudah pengoperasiannya. Sistem peluncuran benang pakan di mesin ini menggunakan angin bertekanan (air jet) sebagai media pembawanya. Angin dari kompresor di saring kebersihannya, kemudian masuk pengatur tekanan angin (regulator), terus disalurkan melalui main nozzle bersama benang pakan, sehingga benang pakan dapat menyisip kemulut lusi dari ujung kiri ke ujung kanan kain. Angin yang ada tidak ditembakkan secara terus-menerus, tetapi diatur secara elektronik valve saat terjadi penyisipan benang pakannya.
Besar kecilnya tekanan angin diatur sesuai ketentuan agar didapat suatu keseimbangan antara benang pakan sampai keujung kain, tetapi tidak merusak atau memutuskan benang pakan tersebut. Besar kecilnya tekanan angin tergantung dari beberapa hal seperti :
• Benang pakan semakin besar, semakin tinggi kebutuhan tekanan angin.
• Kecepatan mesin (rpm) semakin tinggi, semakin tinggi kebutuhan tekanan angin.
• Kain semakin lebar, semakin tinggi kebutuhan tekanan angin.
• Semakin tinggi daya tarik mulur benang pakan, semakin tinggi pula kebutuhan tekanan anginnya.
• Pengaturan sudut pembukaan semakin pendek, tekanan angin semakin besar.
Keterangan gambar 10 :

A. Cones benang
B. Feeder drum
C. Pin feeder drum
D. Main nozzle
E. Gunting pemotong benang pakan.
F. Sub nozzle
G. Sisir
H. Solenoid valve
I. Sensor pendeteksi benang pakan sampai kepinggir kain
J. Sensor pendeteksi benang pakan terlalu panjang
K. Selang angin

Cara kerja peluncuran benang pakan :
Benang pakan masuk lubang di Feeder drum sebagai pengatur panjang benang pakan selebar kain dan penyuap ke Main nozzle. Di main nozzle benang diberi tekanan angin agar dapat terbawa dan menyisip ke mulut lusi sampai ujung kain. Bentuk sisir yang seperti selokan memanjang serta sub nozzle sebagai pembantu main nozzle, membuat benang pakan stabil ketika menyisip ke mulut lusi. Tekanan angin yang diberikan ke main nozzle dan sub nozzle diatur tekanannya sesuai kebutuhan dengan regulator angin. Dalam 1 (satu) gerakan pokok mesin tenun, di main nozzle dan sub nozzle angin membuka dan menutup bergantian diatur komputer melalui solenoid valve.
Untuk panjang benang yang dibutuhkan dalam selebar kain diatur oleh feeder drum. 1 (satu) lebar kain sama dengan 3 (tiga) putaran di feeder drum. Setelah 3 (tiga) putaran, pin feeder drum akan membuka melepas benang pakan tersebut. Selain itu pula feeder drum berfungsi sebagai pengatur tegangan benang sebelum disisipkan ke mulut lusi. Rumus mencari diameter feeder drum untuk panjang benang pakan selebar kain adalah :
Diameter feeder drum = x 1,03 mm
Pengaturan pengaktifan pembukaan tekanan angin pada peluncuran pakan dalam 1 (satu) gerakan pokok mesin tenun diatur :
1. Pin feeder drum : 80°-200°
2. Main nozzle : 90°-190°
3. Grup sub nozzle I : 110°-190°
4. Grup sub nozzle II : 140°-220°
5. Grup sub nozzle III : 170°-240°
6. Grup sub nozzle IV : 170°-240°

Standar tersebut sudah bisa menjalankankan mesin, namun setelah melihat jenis kain, cacat pakan, penghematan energi dan lain-lain, penyetelan dapat diberi variasi (timing variation).
Benang pakan dipastikan sampai keujung kain oleh sensor pendeteksi pertama, jadi apabila benang tidak sampai, maka mesin akan otomatis berhenti. Benang apabila terlalu panjang melebihi yang ditentukan, akan terdeteksi oleh sensor kedua, dan mesin akan otomatis berhenti pula. Sensor yang ada sangat sensitif dan bekerja pada sudut 200°-300° dalam 1 (satu) gerakan pokok mesin tenun.
Otomatis Berhenti Pakan Putus (weft stop motion)
Otomatis berhenti pakan putus di mesin menggunakan sensor cahaya, apabila ada benang pakan lewat didepannya, maka akan memberi masukan ke komputer. Komputer akan memproses apakah mesin berhenti atau tetap jalan. Sensor yang dipasang ada 2 (dua) buah, yaitu :
A. Sensor feeler H1
Sensor ini diatur bekerja pada sudut interval 200°-290° dalam (1) satu gerakan pokok. Di sudut itu benang pakan akan sampai diujung kain paling jauh. Sensor akan memastikan benang pakan selalu mencapai ujung kain dan menghentikan mesin apabila tidak sampai.
B. Sensor feeler H2
Sensor ini di diatur bekerja pada sudut interval 200°-300° dalam 1 (satu) gerakan pokok. Sensor akan memastikan benang pakan tidak melewati batas yang diinginkan dan menghentikan mesin apabila ada yang melewati sensor.

Otomatis Berhenti Lusi Putus (warp stop motion)
Otomatis stop lusi putus pada mesin menggunakan dropper dan batang tembaga. Tiap benang lusi dimasukan dalam lubang dropper, dan apabila ada benang lusi putus, maka dropper jatuh dan menyentuh batang tembaga. Dengan sentuhan itu akan memberi masukan ke komputer untuk menghentikan mesin tenun.





WATER JET LOOM

Mesin tenun ini digunakan untuk benang-benang filament, karena benang filament mempunyai stretch yang tinggi, walaupun di paksakan di air jet bisa di jalankan, tetapi akan merusak peralatan yang ada karena bersifat sangat tajam dan menggores. Dengan water jet akan mampu mengantar benang dengan sempurna, karena tekanan air lebih kuat dari tekanan udara.

Gambar sistem kerja Water Jer Loom
Cara kerjanya, air dipompa dan di atur tekanannya dengan regulator untuk ditembakkan melalui nozzle untuk membawa benang pakan. Solenoid valve akan membuka tembakan air sesuai sudut interval penyisipan benang pakan mesin air jet loom. Sedangkan di water jet loom tidak memakai sub noozle karena tekanan air yang ditembakan sudah cukup kuat membawa benang pakan.
Sisir yang dipakai adalah flat reed seperti mesin teropong, tidak seperti air jet loom yang berbentuk profile.
Otomatis Berhenti Pakan Putus (weft stop motion)
Hampi sama dengan air jet loom.
Otomatis Berhenti Lusi Putus (warp stop motion)
Water jet loom tidak memakai otomatis stop (dropper), karena benang filament sangat kuat sehingga jarang sekali putus.
Shedding Motion
Tergantung kebutuhan, biasanya positif cam atau dobby

RAPIER LOOM

Rapier loom banyak digunakan sampai saat ini, mesin ini sangat cocok untuk menyisipkan benang-benang yang berat. Rapier loom ada 2 macam :
1. Sistem tongkat
Disini menggunakan benang pakan dibawa ujung tongkat dan diberikan atau disampaikan ke tongkat kedua kemudian setelah sampai di ujung, benang pakan akan dilepaskan dari tongkat kemudian baru mengalami pengetekan.
Gambar rapier insertion system
2. Sistem rapier flexible
Disini sama saja, hanya tongkat diganti sabuk atau rantai yang flexsible sehingga mesin tenun tidak terlalu lebar seperti rapier tongkat yang membutuhkan tempat yang lebar dan tidak nyaman untuk produksi kain tenun yang lebar.
Untuk sistem seperti take up, let off dan lainnya sama dengan yang lain, sedangkan sistem otomatis pakan putus mirip dengan mesin shuttle.


PROJECTILE LOOM

Cara kerja mesin ini dengan cara menjepitkan benang pakan ke projectile dan ditembakkan ke ujung kain kemudian penjepit dilepaskan, benang mengalami pengetekan dan projectile kembali melalui jalan bawah untuk di pakai lagi.
Kelebihannya sangat cocok untuk benang-benang berat dan memproduksi kain yang lebar.
Gambar cara kerja projectile loom

Untuk sistem seperti take up, let off dan lainnya sama dengan yang lain, sedangkan sistem otomatis pakan putus mirip dengan mesin shuttle.










JACQUARD SYSTEM

Jacquard adalah sistem pembuat mulut lusi yang paling banyak variasi anyamannya. Hal tersebut karena lusi naik-turun bergerak secara individu, sehingga tidak banyak pengulangan seperti sistem dobby apalagi cam.
Variasi dobby maksimal rata-rata 18 heald frame, sedangkan jacquard bisa 300 lebih baru pengulangan.
Kelebihan jacquard :
1. Masing-masing lusi dapat naik turun secara independent, sehinga bisa mwndapatkan corak anyaman yang lebih rumit (rapor panjang dan tidak bisa dikerjakan dobby)
2. Dapat digunakan untuk macam-macam tenunan selain tenun biasa seperti handuk, taplak, korden dll
3. Tipe benang, anyaman, warna mudah di variasi dan dikombinasikan di mesin, terutama yang sistem computer
4. Tension lusi lebih merata daripada dengan dobby, karena tebal heald framenya sama.

Klasifikasi mesin jacquard :
1. Inggris pitch : rentang ukura 100 s/d 600 needles
2. Ordinary jacquard : single lift, centre shed jacquard, double lift
3. Prancis pitch : vicenzi, verdol : cocok untuk sutra
Prinsip gerakan jacquard :
Gerakan dari mesin digunakan menggerakkan lever naik-turun dengan fulcrum. Ketika turun hook akan bebas, apabila needle ujungnya masuk lubang kartu, maka hook akan terbawa maju karena terkait lubang needle, sehingga ketika lever naik kembali, ujung hook akan mengait grief dan hook akan terbawa naik. Hook naik otomatis harness naik untuk menaikkan benang lusi juga. Bila tidak masuk lubang kartu, needle tidak terdorong, sehingga harness bebas dan tidak mengangkat lusi.
Mesin jacquard modern menggunakan solenoid magnet sebagai penarik needle, sehingga kecepatan, pengaturan design lebih mudah lagi. Tidak perlu membuat lubang-lubang kartu, cukup membuat design dikomputer dan memasukkan data mesin, kemudian mesin jacquard bekerja sesuai instruksi yang diperintahkan.
Hasil design juga bisa langsung dicoba dan dilihat dimesin tenun, karena tidak membutuhkan waktu yang lama.

ISTILAH TEKSTIL


ISTILAH – ISTILAH DALAM PERTEKSTILAN

AATCC
American Association oF Textile Chemists and Colorists, yaitu suatu lermbaga pengetahuan nasional di Amerika yang bertujuan : 1) meningkatkan pengetehauan dalam aplikasi zat warna dan zat kimia pada industri tekstil, 2) menyelenggaarakan penelitian dalam proses kimia Dan bahan baku, 3) menciptakan dan mengembangkan standar ketahanan luntur zat warna dan zat penyempurnaan, 4) menciptakan dan mengembangan cara uji dan peralatan ujinya Afinitas Perbandingan antara zat warna yang terdistribusi di dalam air dengan di dalam serat. Makin tinggi yang dapat terdistribusi di dalam serat maka zat warna tersebut dikatakan memiliki afinitas yang tinggi dan sebaliknya. Air Jet Loom Lebih dikenal dengan sebutan AJL, adalah jenis mesin tenun tanpa teropong (shuttleless) dimana penyuapan benang pakan tidak menggunakan teropong tetapi dengan menggunkan dorongan (jet) udara. Lihat Water Jet Loom Alkali shock Salah satu cara fiksasi pada pencelupan dengan zat warna reaktif menggunakan alkali pekat (NaOH) panas dalam waktu sangat singkat (10 detik)

Anion
Ion bermuatan negatif, contoh OH–

ATBM
Singkatan dari Alat Tenun Bukan Mesin, merupakan mesin tenun dengan tenaga manusia sebagai penggeraknya. ATBM biasa ditemukan di sentra industri kecil untuk membuat produk tradisional dan kerajinan

ATM
Singkatan dari Alat Tenun Mesin, merupakan mesin tenun dengan tenaga motor sebagai penggeraknya. Mesin ini kecepatannya jauh lebih tinggi daripada ATBM dan dikembangkan dalam berbagai jenis sehingga dapat untuk membuat kain dari yang kasar sampai dengan yang sangat halus dengan berbagai desain

Batch
Partaian, yaitu sejumlah tertentu kain/ benang/ serat yang akan diproses sesuai dengan kapasitas mesin yang akan digunakan. Jika kapasitas mesin 200 kg maka apabila bahan yang akan diproses sebanyak 1.000 kg, dapat dikelompokkan menjadi lima batches dan tiap batch mengandung maksimum 200 kg.

Batching
Proses fiksasi zat warna dengan cara pemeraman selama waktu tertentu dan pada suhu tertentu pula . Fiksasi cara ini banyak dilakukan pada pencelupan dengan zat warna reaktif dingin maupun panas cara Pad Batch. Lamanya pemeraman tergantung kepada tua muda warna yang diharapkan dan ketahanan terhadap hidrolisa zat warna reaktifnya. Selama pemeraman berlangsung, gulungan kain diputar perlahan – lahan untuk menghindari migrasi zat warna terakumulasi pada bagian bawah gulungan dan dibungkus untuk menghindari pengeringan karena penguapan.

Bleaching
Suatu proses persiapan penyempurnaan tekstil berupa pengelantangan menggunakan oksidator atau reduktor. Bahan yang dikelantang dapat berupa benang maupun kain, setelah dikelantang akan menjadi bersih dan putih. Pada umumnya dilakukan setelah atau simultan dengan Desizing dan Scouring. Jika yang dikelantang kain seringkali juga dilakukan singeing. Lihat  singeing, desizing dan scouring

Blending
Percampuran serat. Dalam industri tekstil seringkali dilakukan sesuatu serat dicampur dengan serat lain, misalnya campuran poliester – kapas. Campuran serat ini paling banyak diperdagangkan untuk digunakan sebagai bahan pakaian. Kelemahan sifat dari salah satu serat diimbangi oleh keunggulan sifat serat lain sehingga diperoleh komposisi campuran yang optimum berkaitan dengan penggunaannya.


Blowing
Mesin pertama dari rangkaian mesin pemintalan yang berfungsi membuka dan membersihkan gumpalan serat dengan mekanisme pemukulan serat.

Bowl
Rol pemeras pada padder. Pada umumnya padder memiliki 2 atau 3 bowls. Susunan bowls dapat horizontal, vertikal atau diagonal satu dengan lainnya.

Calender
Mesin yang dipakai untuk penyempurnaan kain, terdiri dari tiga rol atau lebih. Kain dilewatkan diantara rol – rol yang salah satu atau lebih diantaranya adalah rol panas. Efek caladering yang dihasilkan dapat berupa permukaan kain yang pipih dan mengkilat, lembut pegangannya, ada efek krep dll.

Carding
Salah satu mesin dari rangkaian proses pemintalan yang dipakai untuk membuka dan membersihkan serat dengan menggunakan permukaan berpaku (wire)

Carrier
Disebut zat pengemban, yaitu senyawa - senyawa seperti fenil fenol (orto, para) klorobensena, hidrokarbon aromatik, klor hidrokarbon, ester,eter, asam benzoat dan asam salisilat yang mampu menggelembungkan serat dan menambah kelarutan zat warna (carrier yang bersifat hidrofil) atau mampu memplastiskan serat (carrier yang bersifat hidrofob) sehingga dapat menambah laju kecepatan celup dan dapat digunakan pada pencelupan poliester (utamanya) pada temperatur mendidih.

Cheese
Disebut juga bobbin yaitu alat bantu berupa penggulung benang silinder, terbuat dari kayu, kertas, plastik atau logam. Benang digulung pada penggulung ini menjadi gulungan benang berbentuk silinder.

Clip tenter
Jenis mesin stenter yang menggunakan penjepit (clip) sebagai pemegang pinggir kain. Jenis lainnya adalah Pin Tenter atau kombinasi dari keduannya Clip & Pin Tenter. Lihat Pin Tenter

Cone
Disebut juga bobbin yaitu alat bantu berupa penggulung benang berbentuk kerucut terbuat dari kayu, kertas, plastik atau logam. Benang digulung pada penggulung ini menjadi gulungan benang berbentuk kerucut.

Course
Deretan jeratan ke arah lebar kain rajut. Course dibentuk oleh jarum yang berbeda.

Crease mark
Lipatan pada kain yang bersifat permanen. Hal ini terjadi karena pengerjaan kain dalam bentuk rope dalam larutan panas. Contohnya.: Kain hasil proses pemasakan, pengelantangan menggunakan J-Box atau Kier. Lihat Rope

Crease Recovery
Disebut juga Kemampuan Kembali dari Kekusutan, yaitu suatu ukuran untuk menyatakan baik buruknya hasil suatu proses penyempurnaan resin anti kusut. (dinyatakan dalam derajat), dengan mengukur besarnya sudut yang terbentuk oleh kain yang dilipat dan diberi beban tertentu dalam waktu tertentu setelah beban dilepas.. Makin besar sudut yang terbentuk makin tinggi kemampuan untuk kembali dari kekusutan dan hal ini berarti bahwa makin baik ketahahan kusutnya,

Crease resistant
Sifat tekstil (kain pada umumnya) yang memiliki ketahanan terhadap kekusutan. Hal ini dapat diperoleh melalui suatu proses penyempurnaan anti crease menggunakan resin sintetik.

Crease retention
Kemampuan kain untuk menahan lipatan yang telah dihasilkan dari proses durable press. Lihat Durable Press.


Curing
Disebut juga pemanas awetan, adalah proses polimerisasi pada temperatur dan waktu tertentu. Proses ini memerlukan bantuan panas dan asam yang dihasilkan dari katalis. Lihat katalis.

Cylinder dryer
Jenis mesin pengering teridiri dari beberapa deret silinder panas tersusun vertikal. Cylinder dryer biasanya dipakai sebagai pengering akhir setelah ptoses pencucuian.

Desizing
Suatu proses persiapan penyempurnaan tekstil berupa penghilangan kanji pada kain hasil pertenunan. Kain terdiri dari benang lusi dan pakan. Pada proses pertenunan benang lusi lebih banyak mendapat gesekan, tarikan dan penegangan, oleh karena itu agar lebih kuat (tidak mudah putus) pada umumnya benang lusi dikanji terlebih dahulu. Setelah menjadi kain kanji tersebut perlu dihilangkan agar proses selanjutnya dapat memberikan hasil yang lebih baik. Prosesnya dapat dilakukan sesudah desizing sebelum scouring dan bleaching tetapi dapat juga simultan dengan scouring dan bleaching.. Lihat singeing, scouring dan bleaching.


Direct printing
Disebut juga Pencapan Langsung, yaitu suatu proses pencapan pada kain putih atau berwarna (dasar) secara langsung dengan menggunakan pasta berisi zat warna dan zat pembantunya sehingga diperoleh desain tertentu.

Discharge Printing
Suatu proses pencapan di atas kain yang telah berwarna (hasil pencelupan pada umumnya) menggunakan pasta cap yang mengandung zat perusak terhadap zat warna dasar sehingga diperoleh desain dengan warna pengganti warna dari zat warna dasar tersebut. Dengan demikian maka diperlukan zat warna untuk desain yang memilki ketahanan terhadap zat perusak zat warna dasar.

Drafting
Proses peregangan bahan dalm proses pemintalan melalui proses pemukulan (pencabikan) serat, penarikan, penyebaran, atau hisapan udara (pneumatik).

Drawing
Salah satu mesin dari rangkaian proses pemintalan yang berfungsi untuk meningkatkan kerataan dan mengubah orientasi serat menjadi sejajar sumbu sliver, melalui proses perangkapan dan peregangan.

Drawing In
Suatu proses penarikan ujung benang lusi dimasukkan ke dalam lubang (mata) gun atau sisir tenun

Dyeing
Disebut juga Pencelupan, yaitu pemberian warna pada tekstil (dapat berupa serat, benang atau kain) secara merata dengan hasil yang bersifat permanen. Pada proses pencelupan terjadi tiga tahapan proses yaitu migrasi disertai dengan adsorpsi, difusi dan fiksasi. Sebagai medium digunakan air. Lihat migrasi, difusi dan fiksasi.

Dyes
Seringkali disebut juga dyestuff atau zat warna, yaitu bahan pewarna untuk tekstil,. Pada umumnya memilki kromofor yaitu pembawa warna dan auksokrom yaitu substantivitas terhadap tekstil. Zat warna ada yang dapat larut sehungga langsung dapat mewarnai, ada yang perlu dilarutkan sementara agar dapat memiliki substantivitas dan ada yang sama sekali tidak larut sehingga pada pemakaiannya perlu didispersikan.

False twist
Suatu proses untuk membuat benang filamen menjadi bulky dan kenyal. Caranya dengan memberi twist dengan spindle yang berputar dan diheat set kemudian twistnya dibuka kembali.

Fastness
Ketahanan luntur zat warna terhadap pengaruh fisika maupun kimia yang diterapkan kepadanya. Contoh : Fastness to rubbing yaitu ketahanan luntur zat warna terhadap gosokan, Fastness to washing yaitu ketahanan luntur zat warna terhadap pencucian, Fastness to Chlorine yaitu ketahanan luntur zat warna terhadap pengerjaan dalam larutan yang mengandung klor.

Fiber
Disebut juga Serat, yaitu bahan utama untuk pembuatan benang untuk dijadikan kain. Juga diartikan sebagai suatu benda yang memiliki karakteristik panjangnya paling tidak 100 kali dari diameter atau lebarnya, permukaannya memungkinkan terjadinya kohesi diantaranya sehingga dapat dibuat benang.

Fiksasi
Pengikatan zat warna oleh serat dengan ikatan van der Waals, ikatan hidrogen, ikatan ionik atau ikatan kovalen sehingga hasil pencelupan atau pencapan memiliki ketahanan luntur. Lihat Ikatan v.d. Waals (non polar) , Hidrogen, Kovalen dan Ionik

Filamen
Serat yang sangat panjang (dapat sampai tidak terhingga panjangnya). Contoh : Pada umumnya serat buatan (poliester, poliamida, poliakrilik, polietilena dsb.) berupa filamen yang dapat dibuat menjadi bentuk stapel. Sutera adalah satu – satunya serat alam yang berbentuk filamen. Lihat Serat (fiber) dan Stapel.

Finishing
Disebut juga Penyempurnaan, yaitu proses pengolahan tekstil setelah proses persiapan penyempurnaan, pencelupan maupun pencapan, secara fisika dan atau secara kimia untuk meningkatkan mutu tekstil tersebut. Misalnya menjadi memiliki sifat tahan kusut, tahan air dsb.

Flock printing
Suatu proses pencapan dimana pada desain ditanamkan bulu. Teknologi pencapan ini memanfaatkan sifat elektrostatik dari bulu tersebut. Sebagai bulu pada umumnya digunakan serat sintetik, karena memiliki sifat elektrostatik yang tinggi.

Gray (grey)
Istilah yang digunakan untuk menyatakan keadaan kain tenun atau rajut yang belum mengalami proses persiapan penyempurnaan (pre treatment).

Grid bars
Batang-batang yang terletak secara teratur di bawah unit Blowing atau mesin Carding, yang dapat diatur posisinya, sehingga antar batang dapat tertutup atau terbuka selebar yang diinginkan.

Heat contact
Salah satu cara fiksasi pada pencelupan dengan zat warna reaktif dengan menggunakan kontak langsung kain dengan silinder pemanas

Heat setting
Suatu proses pemantapan terhadap kain (pada umumnya) yang terbuat dari serat termoplastik menggunakan panas dengan tujuan untuk mestabilkan dimensi. Prosesnya dilakukan dengan pemanasan pada temperatur tinggi sambil dikontrol dimensinya menggunakan stenter, lalu didinginkan dengan segera. Polimer dari serat sintetik yang baru dihasilkan melalui proses pemintalan, distribusi molekulnya belum terorientasi sempurna sehingga tidak dapat digunakan sebagai bahan pakaian. Untuk itu diperlukan penarikan sehingga molekul tersebut terorientasi sempurna yaitu sejajar satu terhadap lainnya dan kompak. Dengan heat setting kondisi tersebut dapat dicapai. Lihat pre, intermediate dan post setting.

HT/HP
Hight Temperature High Pressure, yaitu metoda pencelupan menggunakan temperatur dan tekanan tinggi ( temperatur di atas 100 oC dan tekanan di atas 1 atmosfer )

Impregnasi
Proses perendaman sekaligus penyerapan larutan celup dilanjutkan dengan pemerasan menggunakan padder. Lihat Padder/padding

Indigo
Zat warna alam berwarna biru yang diperoleh dari tumbuhan indigofera tinctoria dan indigofera.

Intermediate setting
Heat setting yang dilakukan terhadap kain yang telah mengalami proses persiapan penyempurnaan (singeing, desizing, scouring dan bleaching)

Jet dyeing machine
Mesin celup kain dalam bentuk rope sebagai perbaikan cara pencelupan menggunakan winch. Mesin ini bekerja pada temperatur dan tekanan tinggi. Larutan celup disirkulasi dengan pompa paling tidak 4 – 5 kali dalam satu menit melalui suatu “nozzle” sehingga kain yang kedua ujungnya disambungkan terdorong (jet) dan berputar. Dengan menggunakan mesin ini dapat diperoleh keuntungan antara lain kain terhindar dari kusut (terlipat), tanpa mengalami tegangan dan dapat memperoleh warna tua.

Jigger
Mesin celup kain dalam bentuk open width. Mesin ini memiliki dua rol penggulung. Kain dari pnggulung yang satu berpindah ke penggulung yang lain melalui larutan celup dalam bak. Selama proses kain dalam keadaan ditegangkan dan setelah gulungan kain terpindahkan semuanya, mesin akan berbalik arah sehingga terjadi penggulungan ke arah sebaliknya. Perpindahan kain sampai selesai dari dan ke satu penggulung disebut passage. Pencelupan dengan jigger biasanya dilakukan sebanyak enam passages atau memakan waktu +45 - 60 menit.

Kapas
Serat alam dengan komponen utama selulosa yang merupakan polimerâ glukosa dengan derajat polimerisasi (DP) 10.000 dan Berat Molekul 1.580.00. Kapas sudah dikenal sejak 5.000 SM yang dihasilkan dari rambut biji tanaman jenis Gossypium Hirsutum (yang berhasil dikembangkan).

Kiering
Suatu proses pemasakan kain kapas menggunakan bejana bertekanan sehingga biji kapas atau kotoran yang terbawa dalam serat dapat dihilangkan dengan baik.

Lap Former
Salah satu mesin Pre-Combing (persiapan untuk proses Combing) yang berfungsi mengubah rangkapan sliver menjadi lap.


Liquor ratio
Disingkat L.R, seringkali disebut juga Vlot, yaitu perbandingan banyaknya larutan (liter) yang harus digunakan dalam suatu proses perendaman (exhaust) dengan berat bahan (kg) yang harus diproses. Bila bahan yang dikerjakan beratnya 25 kg sedang LR yang digunakan 20 : 1, maka larutan yang diperlukan adalah 20 x 25 = 500 liter. Pada zat warna yang dapat larut, penggunaan LR yang lebih rendah dapat meningkatkan ketuaan warna dan sebaliknya, akan tetapi perlu diperhatikan LR yang terlalu kecil dapat menyebabkan ketidakrataan hasil pencelupan. Besar kecilnya LR tergantung kepada jenis mesin yang digunakan dalam proses. Mesin jigger dengan LR 5 :1 s/d 4 : 1, winch dengan LR 15 : 1 s/d 10 : 1, jet dyeing dengan LR 10 : 1 s/d 8 : 1, package atau cone dyeing 10 : 1 s/d 8 : 1

Melt Spinning
System Sistem pembuatan serat dengan cara melelehkan bahan baku (chip), misalnya pembuatan poliester dan nilon.

Mercerizing
Suatu proses persiapan penyempurnaan tekstil (pada umumnya kain kapas) dengan menggunakan alkali kuat dan pekat (soda kostik) sehingga daya serap, kekuatan dan lusternya meningkat. Lihat luster.

One bath one stage
Cara pencelupan kain/benang campuran dengan cara mencelup kain/benang campuran tersebut dalam larutan tunggal yang mengandung dua jenis zat warna. Fiksasi kedua jenis zat warna pada masing – masing serat dilakukan secara bersamaan pada kondisi yang sama Contohnya pada pencelupan kain poliester kapas dengan zat warna dispersi reaktif

One bath two stage
Hampir sama dengan one bath one stage, hanya saja fiksasi zat warna pada masing – masing serat dilakukan bergantian. Kalau pada kain poliester kapas, biasanya fiksasi zat warna pada serat poliester dilakukan lebih dahulu baru fiksasi zat warna pada kapas

Open-end
Nama mesin terakhir dalam rangkaian proses pemintalan benang open-end (open-end spun yarn), berfungsi memproses sliver drawing menjadi benang melalui proses peregangan secara mekanik dan pneumatik, pemberian antihan, dan penggulungan benang.

Open width
Bentuk kain dalam keadaan terbuka lebar, bukan untaian (rope). Pengerjaan dengan mesin jigger, beam dan padding diperuntukkan bagi kain dalam keadaan open width (bukan rope). Lihat Rope.

Padder
Jenis mesin untuk impregnasi larutan, terdiri dari sebuah bak larutan yang dibagian atasnya terdapat 2 atau lebih bowls. Kain dalam bentuk open width melewati larutan kemudian diperas diantara dua bowls tersebut sehingga membawa larutan sebesar wet pick up yang dipasang. Lihat Bowls dan Wet Pick Up

Padding
Proses dimana kain dalam bentuk terbuka lebar (open width) secara berkesinambungan (kontinyu) melewati suatu bak yang berisi larutan proses kemudian dilanjutkan dengan pemerasan diantara dua rol pemeras yang berada di atas bak larutan tersebut.

Pad alkali shock
Proses pencelupan kontinyu pada kain dengan urutan proses mula – mula kain dipadding dalam larutan zat warna, kemudian
dikeringkan. Selanjutnya kain dilewatkan dalam larutan alkali kuat (soda kostik pH 11-12) pada temperatur 80 oC selama 10 detik untuk fiksasi zat warna. Setelah itu kain dicuci, disabun dan dibilas serta dikeringkan dengan cylinder dryer.

Pad baking
Proses pencelupan kontinyu pada kain dengan urutan proses mula – mula kain dipadding dengan larutan celup dan zat pembantu lalu dikeringkan. Selanjutnya difiksasi dengan cara pemanggangan menggunakan udara panas pada temperatur tertentu ( 150 – 170 oC selama 5 – 3 menit) kemudian dicuci, disabun dan dibilas dan terakhir dikeringkan menggunakan cylinder dryer

Pad batch
Proses pencelupan semi kontinyu pada kain dalam bentuk open width dengan urutan proses mula – mula kain dipadding dalam larutan celup (dengan zat pembantunya) kemudian digulung (rolling) dengan panjang tertentu, lalu dipotong. Gulungnan kain selanjutnya diperam (batching) selama waktu tertentu dan setelah selesai lalu dicuci, disabun, dibilas dan selanjutnya dikeringkan dengan cylinder dryer. Selama pemeraman kain dibungkus agar tidak terjadi dehidrasi dan gulungan diputar perlahan – lahan agar larutan celup tidak bermigrasi dan berkumpul di bagian bawah gulungan. Proses ini biasa digunakan pada pencelupan kain dengan zat warna reaktif

Pad Jig
Proses pencelupan semi kontinyu pada kain menggunakan zat warna bejana (vat). Mula – mula kain dipadding dengan larutan zat warna dan digulung sebesar kapasitas jigger ( sepanjang 1000 meter setara 150 kg) lalu di[potong. Kain dipindahkan ke jigger untuk difiksasi dengan larutan fiksasi dengan cara pencelupan exhaust. Untuk menjaga agar zat warna yang menempel pada kain tidak bermigrasi ke dalam larutan fiksasi, maka ke dalam larutan fiksasi perlu ditambahkan larutan zat warna yang jumlahnya dapat diperhitungkan dengan perumusan sbb :
Gram/liter x (WPU)2 Ml/liter =_____________
10.000 Ml/liter = jumlah mililiter larutan zat warna yang perlu ditambahkan pada setiap liter larutan celup exhaust
Gram/liter = konsentrasi zat warna pada proses padding
WPU = wet pick up pada proses padding

Pad steam
Proses pencelupan kontinyu pada kain menggunakan zat warna bejana (vat) atau zat warna reaktif. Mula – mula kain dipadding dengan larutan zat warna kemudian dikeringkan. Setelah itu kain dipadding dengan larutan zat pembantu fiksasi, kemudian difiksasi dengan cara diuap (steam) pada temperatur 102 oC selama 4 – 5 menit. Selanjutkan kain dicuci, disabun, dibilas dan dikeringkan menggunakan cylinder dryer

Pilling
Kondisi pada permukaan kain karena adanya “pills” yaitu gintilan serat yang mengelompok dipermukaan Serat sehingga kenampakan kain kurang baik. Pills ini semakin banyak manakala kekuatan serat semakin tinggi.

Plain weave
Disebut juga Anyaman Polos, yaitu salah satu jenis anyaman dari tiga anyaman dasar dan merupakan anyaman yang paling sederhana. Masing – masing benang lusi dan pakan saling bersilangan. Dua anyaman dasar lainnya adalah Satin dan Twill. Lihat Satin dan Twill

Post setting
Heat setting yang dilakukan terhadap kain yang telah mengalami proses persiapan penyempurnaan (singeing, desizing, scouring bleaching) dan proses pencelupan atau proses pencapan. Zat warna yang digunakan pada pencelupan harus memiliki ketahanan sublimasi yang tinggi agar tidak rusak pada waktu di heat set.
Pre-Combing
Proses persiapan bahan (sliver) untuk diproses di mesin Combing. Mesin-mesin pre-combing adalah Super Lap atau Lap Former dan Ribbon Lap.

Pre setting
Heat setting yang dilakukan terhadap kain gray (mentah), jadi sebelum kain tersebut mengalami proses persiapan penyempurnaan (singeing, desizing, scouring dan bleaching) maupun proses pencelupan dan atau pencapan. Kain yang di heat set dengan cara ini apabila terdapat kotoran pada kain akan terfiksasi sehingga sulit dihilangkan

Pre treatment
Disebut juga Proses Persiapan Penyempurnaan, yaitu proses – proses sebelum kain atau benang dicelup, dicap ataupun difinish dapat berupa pembakaran bulu (singeing), penghilangan kanji (desizing), pemasakan (scouring), pemerseran (mercerising), pemantapan panas (heat setting) maupun pengelantangan (bleaching).

Reduction clearing
Disingkat RC, yaiu proses pengerjaan setelah pencelupan atau pencapan poliester dengan zat warna dispersi, menggunakan Natrium hidrosullfit dan Soda kostik untuk menghilangkan zat warna yang hanya menempel pada permukaan sehingga dapat meningkatkan sifat tahan luntur terhadap gosokan (fastness to rubbing)

Reeling
Suatu proses penguraian sutera mentah dari kokon yang direndam dalam air panas. Biasanya beberapa lembar filamen dari beberapa kokon datarik dan direkat bersama menggunakan perekat tanpa dipilin

Resist printing
Disebut juga Pencapan Rintang, yaitu suatu proses pencapan dimana setelah pasta cap dicapkan pada kain dilanjutkan dengan pencelupan. Dengan menggunakan zat anti fiksasi (pada pasta cap) terhadap zat warna yang digunakan untuk pencelupan, maka akan diperoleh warna desain dan warna celupan (sebagai dasar kain) yang berbeda (coloured resist). Jika pasta cap tidak diberi zat warna maka akan diperoleh desain berwarna putih (white resisit). Proses ini merupakan kebalikan dari dicharge printing. Teknologi Resist Printing banyak dilakukan pada industri batik dengan peresistnya berupa malam sehingga pada pencelupannya, pada bagian kain yang telah dicap dengan malam tersebut tidak memungkinkan zat warna yang digunakan pada pencelupan berpenetrasi dan berdifusi apalagi terfiksasi.

Ribbon Lap
Salah satu mesin pre-combing yang berfungsi untuk memperbaiki kerataan lap hasil mesin Lap Former.

Ring Spinning
Rangkaian terakhit dari proses pemintalan untuk membuatn benang ring (ring spun yarn), berfungsi memproses roving menjadi benang dengan proses peregangan, pemberian antihan, dan penggulungan benang.

Rope
Bentuk kain dalam keadaan untaian, bukan terbuka lebar (open width). Pengerjaan dengan mesin winch, jet dan kier diperuntukkan bagi kain dalam keadaan rope (untaian). Lihat Open width

Roving
Salah satu mesin dalam rangkaian proses pemintalan yang berfungsi memproses sliver drawing menjadi roving melalui proses peregangan, pemberian antihan, dan penggulungan.

Sanforising
Disebut juga Anti Shrink, anti mengkeret, yaitu suatu proses penyempurnaan terhadap kain (kapas) agar menjadi tidak mengkeret lagi. Proses anti mengkeret dapat dilakukan secara kimia dan secara mekanik. Dalam hal proses anti mengkeret secara mekanik, telah diciptakan mesin Sanfor oleh Monsfort. Kain yang telah diproses anti mengkeret dengan mesin sanfor diberi label “Sanforised”

Scouring
Suatu proses persiapan penyempurnaan tekstil berupa (impurities) dan kotoran luar .Zat yang dapat digunakan dapat alkali, asam, sabun atau deterjen. Proses ini dilakukan sesudah desizing sebelum bleaching, tetapi dapat juga simultan dengan desizing dan bleaching. Untuk kain pada umumnya dilakukan sesudah singeing.

Shuttle
Disebut juga teropong, yaitu peralatan pada mesin tenun berbentuk seperti perahu untuk membawa benang pakan yang disuapkan pada mulut lusi.

Shuttleless
Disebut juga shuttleless loom yaitu jenis mesin tenun yang penyuapan benang pakannya tidak menggunakan teropong (shuttle), misalnya dengan rapier, water jet, air jet,

Shuttle loom
Jenis mesin tenun yang penyuapan benang pakannya menggunakan teropong (shuttle). Walapun mesin jenis ini masih banyak digunakan akan tetapi keberadaannya sudah mulai terdesak oleh penggunaan shuttleless loom.

Simplex
Salah satu jenis mesin roving. Lihat pada entry “Roving”

Singeing
Suatu proses persiapan penyempurnaan tekstil berupa pembakaran bulu pada permukaan kain. Bulu ini timbul sebagai akibat proses pertenunan dan atau karena seratnya sendiri memiliki tendensi menimbulkan bulu kalau digesek. Pada waktu pencelupan, bulu ini akan lebih menyerap zat warna daripada kainnya sehingga warna pada permukaan kain menjadi tidak merata.

Slashing
Disebut juga Warp Sizing, yaitu suatu proses penganjian benang lusi dalam bentuk beam agar memiliki katahanan terhadap gesekan pada waktu ditenun sehingga tidak mudah putus. Lihat Warping (Sectional warping)

Sliver
Kumpulan jajaran serat yang tidak terputus, belum diberi twist, berbentuk seperti silinder untuk diolah lebih lanjut menjadi benang melalui beberapa tahapan proses, hasil dari proses Carding disebut sliver carding, hasil proses drawing disebut sliver drawing.

Spinning
Disebut juga proses pemintalan, yaitu suatu proses pembuatan benang dari serat dengan cara membuka gumpalan serat dan membersihkan, mengecilkan gumpalan serat, menyejajarkan serat- serat dalam gumpalan kecil serat, kemudian memberi antihan/ pilinan sehingga terjadi kohesi diantara serat-serat tersebut dan terbentuklah benang yang kontinyu (panjang).

Sequestering agent
Zat yang memilki kmampuan mengikat ion logam dalam air sehingga membentuk garam kompleks. Zat ini bisa digunakan untuk menurunkan kesadahan metode kompleksometri

Stapel
Serat berukuran tidak terlalu panjang (hanya beberapa inci). Contoh : Hampir semua serat alam seperti wool, kapas dsb. Berbentuk staple kecuali sutera berbentuk filamen

Stapel length
Seringkali disebut juga Stapel, yaitu peristilahan dalam menyatakan panjang serat yang diperoleh dari pengukuran dengan tangan

Stenter
Suatu mesin yang digunakan untuk memproses kain dengan cara membentangkan kain ke arah lebar dengan peregangan dan bergerak maju menggunakan rantai berjalan yang sekaligus memegang pinggir kain tersebut. Mesin ini dipakai untuk proses heat setting, stentering dan finishing. Lihat Heat setting, Stentering dan Finishing


Stentering
Suatu proses pada kain menggunakan mesin stenter untuk tujuan merapihkan kain sehingga pinggirnya rata, kedudukan benang lusi dan benang pakan saling tegak lurus dan sekaligus mengatur lebarnya. Hasil kain dari stentering biasanya dipersiapkan untuk di cap atau dicelup dalam bentuk open width.

Surfactant
Disebut juga Surface active agent yaitu suatu zat yang mengandung gugus hidrofil dan hidrofob yang dapat menurunkan tegangan antar muka dua zat.. Surfaktan memilki beberapa fungsi seperti membasahi (wetting effect), berpenetrasi (penetrating effect), mengemulsikan (emulsifying effect), mendispersikan (dispersing effect), menghasilkan busa (foaming effect) dan mencuci (detergency effect).

Texturizing
Suatu proses untuk memberikan permukaan keriting pada benang yang terbuat dari serat sintetik sehingga pegangannya menjadi lebih gembung dan lembut. Berbeda dengan serat alam, serat sintetik pada umumnya memiliki permukaan yang halus, licin dan tidak ada tekukan, sehingga kain yang terbuat dari serat sintetik kasar dan kaku pegangannya. Untuk memperbaikinya antara lain dilakukan pengeritingan (texturizing). Benang yang dihasilkan dari proses ini dikenal sebagai Texturized yarn dan banyak dipakai untuk pembuatan kain yang tipis dan halus.

Themosetting
Suatu sifat yang selalu berubah dengan penerapan panas. Serat alam pada umumnya bersifat thermosetting

Thermosol
Sistem pencelupan kontinyu pada kain poliester dengan zat warna dispersi, dimana fiksasi zat warna dilakukan dengan menggunakan panas (thermo) yaitu pada temperatur tinggi (200 oC).selama 40-60 detik. Pada proses fiksasi ini poliester melunak dan berlaku sebagai pelarut dan zat warna yang telah direkatkan pada permukaan kain melalui proses padding akan terperangkap (larut) dalam serat sehingga terfiksasi. Oleh karena itu proses fiksasi ini juga sering disebut “Solid Solution” zat padat (dalam hal ini zat warna) larut dalam zat padat (dalam hal ini serat poliester). Urutan prosesnya adalah sebagai berikut : Mula mula kain dipadding dalam larutan zat warna dan zat pembantunya, kemudian dikeringkan awal dengan infra red, lalu dikeringkan dengan hotflue. Selanjutkan kain difiksasi dengan cara pemanasan pada temperatur sekitar 200 OC selama 40 – 60 detik, dicuci, disabun dan dibilas serta dikeringkan menggunakan cylinder dryer.

Twill weave
Disebut juga anyaman Keper, merupakan salah satu dari tiga anyaman dasar. Benang lusi dan pakan saling bersilang dengan membentuk efek lusi bergaris miring dengan arah ke kanan (Twill kanan) atau dengan arah ke kiri (Twill kiri)

Twist
Disebut juga Antihan. Benang staple terdiri dari serat serat, agar kohesi antar serat lebih baik sehingga dapat membentuk benang maka diberikan antihan. Arah antihan dapat ke kiri (S Twist) atau ke kanan (Z Twist)


Twisting
Suatu proses penggabungan dua helai benang atau lebih dengan diberi pilinan sehingga terbentuk benang rangkap.

Two bath two Stage
Cara pencelupan pada benang/kain campuran dimana benang/kain dicelup dengan salah satu zat warna kemudian difksasi dan dilanjutkan pencelupan dengan zat warna lainnya diikuti dengan fiksasinya

Wale
Deretan jeratan ke arah panjang kain rajut. Wale dibentuk oleh satu jarum

Warp
Disebut juga lusi, yaitu deretan benang sejajar pinggir kain dan tegak lurus pada benang pakan.

Warping (Sectional warping)
Disebut juga Menghani, yaitu suatu proses persiapan pertenunan dengan menyusun benang – benang lusi sejajar satu dengan lainnya. Jumlah benang yang disejajarkan tergantung kepada tetal lusi dan lebar kain. Hasil warping berupa gulungan benang lusi pada beam yang siap untuk diproses lebih lanjut, misalnya dicucuk pada mata gun dan sisir tenun

Warp knit
Disebut juga Rajut Lusi

Water jet loom
Disingkat WJL, adalah jenis mesin tanpa teropong (shuttleless), dimana penyuapan benang pakan tidak menggunakan teropong tetapi dengan menggunakan dorongan (jet) air.

Weaving
Disebut juga proses Pertenunan, yaitu suatu proses pembuatan kain dengan menyilangkan dua jajaran benang yang saling tegak lurus, yaitu benang lusi (warp) dan benang pakan. (weft). Lihat warp dan weft.

Wet pick up
Disingkat WPU, yaitu banyaknya larutan (liter) yang dapat dibawa oleh satu kilogram kain setelah kain tersebut mengalami proses padding. Besar kecilnya WPU tergantung kepada jenis serat. Kain yang terbuat dari serat hidrofil sebaiknya dipadding dengan WPU tinggi, sedang kain yang terbuat dari serat hidrofob sebaiknya dipadding dengan WPU kecil. Contoh : WPU kain yang terbuat dari poliester 50 %, kapas 80 %, rayon 100 %, polyester/kapas 65/35, 65-70% wool 100%

Wet Spinning System
Sistem pembuatan serat dengan cara melarutkan bahan bakunya dan proses koagulasi (pemadatan serat) dilakukan pada larutan koagulan yang mengikat zat pelarut, misalnya pembuatan selulosa (rayon, viscose rayon, polynosic).


Winch
Mesin untuk memproses kain dalam bentuk rope dengan tanpa tegangan. Alat ini terdiri dari bejana berbentuk trapesium dan kincir penarik berbentuk oval. Kedua ujung kain disambungkan dan kain diputar dalam bejana karena gerakan kincir penarik.